5 Hadis - Hadis Lemah dan Palsu Tentang Puasa Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang mulia dan bulan ini dipilih Allah sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur'an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

" Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al Baqarah: 185)

 Bulan Ramadhan adalah hiburan bagi setiap orang yang berdosa peringatan bagi orang yang lupa, pendidikan bagi orang yang jahil, pemberi semangat bagi setiap orang yang beramal karena padanya dibuka pintu pintu surga, dilipat gandakan pahala dan ibadah. Maka padanya, Barangsiapa yang berpuasa karenaNya dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu.

Karena motivasi ini, tidak heran kalau kita melihat orang berlomba-lomba beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Namun, karena semangat yang tinggi, tapi tidak disertai cukup ilmu, sering orang tidak lagi selektif terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan amalan Ramadhan.

Tanpa disadari sebagian yang diamalkan dan diyakini ada hadis-hadis palsu. Sebagian lain sanadnya sangat lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, sangat penting untuk diketahui hadis-hadis populer yang palsu dan lemah tersebut.

1. Hadis seluruh Bulan adalah Ramadhan


Hadis hadis lemah dan palsu puasa bagian satu

"Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya.

 Hadis ini panjang. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu'at (Kitab tentang Hadis-Hadis palsu, 2/188- 189) dan Abu Yala di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul Aliyah (Bab A-B/manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas'ud Al-Ghifari.

Hadis ini Maudhu' (palsu), atau setidaknya matruk (semi palsu) karena cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil lbnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata, "Terkenal dengan kelemahan (dha if)" beliau juga menukil ucapan Abu Nu'aim tentangnya, "Dia itu suka memalsukan hadis." Al Bukhari juga berkata "Hadisnya tertolak" dan menurut an-Nasai, "Matruk" (ditinggalkan/tidak dipakai hadisnya)." Pada matan hadis tersebut juga terdapat tanda-tanda kepalsuan.


2. Hadits Ramadhan Rahmat,  Maghfirah, dan Bebas dari Api Neraka

Hadis hadis lemah dan palsu puasa ramadhan

Hadis hadis lemah dan palsu puasa bagian dua

"Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang  awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu itqun minan naar/bebas dari neraka..".. sampai selesai.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al-Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu 'Adi dalam Al-Kamil Fi Dhu afa (6/512), Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115).

Hadis ini di dhaifkan oleh pakar hadis seperti Al- Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib, bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi dalam Al-Ilal (2/50) juga oleh Albani dalam Silsilah Adh-Dha'ifah (871) bahwa hadis ini munkar. Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan di dalam Sifatu Shaumin-Nabi (110) dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadis itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.

Menurut murid ahli hadis ini, hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga (no. 1887), dan Al- Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At- Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad'an dari Sa'id bin Al - Musayyib dari Salman. Hadis ini, menurut dua murid ulama Hadis tersebut, sanadnya Dhaif.

 (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid Ibnu Sa'ad berkata, "Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya," dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Tidak kuat". Ibnu Main berkata, "Dhaif." Ibnu Abi Khaitsamah  berkata "Lemah di segala segi", dan Ibnu Khuzaimah berkata: "Jangan berhujjah dengan Hadis ini karena jelek  h a f a l a n n y a.  D e m i k i a n l a h  pernyataannya di dalam Tahdzibut  Tahdzib (7/322-323).

  Yang benar adalah bahwa seluruh  waktu di bulan Ramadhan terdapat  rahmat, ampunan dan kesempatan untuk  terbebas dari api neraka tanpa ada nya  pengelompokan di sepuluh awal, pertengahan dan akhir, ini sesuai dengan  hadis shahih yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim. "Orang yang berpuasa karena iman dan mengharap  pahala, akan diampuni dosa-dosanya dalam yang telah berlalu" (HR. Bukhari no.38, Muslim no. 760)


3. Hadis Berpuasa Akan Sehat


Hadis hadis lemah dan palsu tentang puasa ramadhan

"Berpuasalah maka kamu sekalian sehat."

Hadis tersebut merupakan potongan dari Hadis riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma'ul Bahrain) dan Abu Na'im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin murid Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih,  dari Abi Hurairah.

Sanadnya dhaif (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal.84). Sebagian pendapat mengatkan bahwa ucapan ini pada kitab Al-Rahmah fi  Al-Tibb wa Al-Hikmah, karya Imam Al-Suyuti. Ternyata ucapan ini bukanlah hadis melainkan perkataan seorang dokter dari Sudan yang meneliti bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh jadi pernyataan ini tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam.


4. Hadis Meninggalkan Puasa Tanpa Alasan


Hadis hadis lemah dan palsu tentang puasa ramadhan

"Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal dia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus".

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al-'Ilal Al-Kabir (116), oleh Abu Daud di dalam Sunan-nya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di dalam Al-Mughni (4/367), Ad- Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al-Baihagi di Sunan-nya (4/228)

 Hadis ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al- Muhalla (6/183), Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/173), juga oleh Al-Albani di Dhaif At-Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al-Jami' (5462) dan Silsilah Adh-Dhalifah (4557). Namun memang sebagian ulama ada yang menshahihkan Hadis ini seperti Abu Hatim Ar- Razi di Al-Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al- Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al-Haitsami di Majma Az-Zawaid (3/171).

Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa. Yang benar wal ilmu indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal lfta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa "Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syari, ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah tinggalkannya." (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)


5. Hadis Tidurnya Orang Puasa


Hadis hadis lemah dan palsu tentang puasa ramadhan Bagian satu

"Orang yang berpuasa adalah (tetap di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya"

Hadis hadis lemah dan palsu tentang ramadhan

 "Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do'anya dikabulkan dan amalannya pun dilipatgandakan pahalanya".

Hadis ini diriwayatkan oleh Al- Baihaqi di Su'abul Iman (3/1437). Hadis ini dho'if sebagaimana dikatakan oleh Al- Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrijul-Ihya (1/310). Albani juga mendha'ifkan hadis ini dalam Silsilah Ad-Dha'ifah (4696).

Hadis ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk tidur saja seharian selama puasa, shalat pun bisajadi tertinggal karenanya, padahal kualitas hadist ini dha'if (lemah).

Hadis tersebut disebutkan oleh Imam As- Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jami' Ash- Shaghir, riwayat Ad-Dailamy di dalam Musnad Al Firdaus dari Anas. Imam Al Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, "Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz Dzahaby berkata di dalam kitabnya Adh-Dhu'afa Ibnu Ady berkata, "(Dia) termasuk orang yang suka memalsukan Hadis." Menurut Syaikh Al-Albany, hadis ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, bisa terselamatkan dari status maudlu' (palsu), tetapi tetap dha'if Syaikh Al-Albani juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zawa'id Az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadis tersebut  dari ucapan Abi Al-Aliyah hadis secara mauquf dengan tambahan "Selama dia tidak menggunjing/ghibah."

Dan sanad yang satu ini adalah shahih, barangkali inilah asal hadis. la mauquf (yaitu hadis yang hanya diriwayatkan oleh shahabat atau tabi'in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya marfu' (hadis yang sampai kepada Rasulullah). (Silsilah al-AHadis adl- Dloifah wa al-Maudlu'ah, Jld. II, anya Syaikh Al-Albany, no. 653, hal. 106)

Yang benar adalah bahwa tidur itu adalah perkara mubah (boleh) bukan ritual ibadah, jadi sebagaimana perkara mubah yang lainnya, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah seperti tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum w a k t u n y a atau tidur guna mengistirahatkan tubuh agar lebih fit dalam beribadah.

Semoga dengan adanya penjelasan ini kita bisa menjadi lebih berhati - hati lagi dalam mengamalkan hadis - hadis yang ada di sekitar kita.

Dapatkan info terbaru via email gratis, jangan lupa klik konfirmasi pada email sobat:

0 Response to "5 Hadis - Hadis Lemah dan Palsu Tentang Puasa Ramadhan"