Profesor Matematika AS Masuk Islam Setelah Mendapat Hidayah dari Al-Quran

Semakin cerdas dan jenius seorang manusia, semakin ia menyadari untuk apa ia berada di muka bumi ini, bagaimana penciptaan alam semesta dan apa sebenarnya hikmah dari diciptakannya segala sesuatu yang ada di dunia dan juga dirinya sendiri. Seperti itulah yang dirasakan oleh para Mualaf kebanyakan termasuk diantaranya Dr Jeffrey Lang, seorang professor matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terbesar di Amerika Serikat. Semenjak duduk di bangku sekolah dia memang dikenal kritis, termasuk masalah agama yang diyakininya. Ia memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan.

Profesor Matematika AS Masuk Islam Setelah Mendapat Hidayah dari Al-Quran

"Jika ada Tuhan dan dia adalah penyayang dan penuh kasih, maka mengapa ada penderitaan di muka bumi ini? mengapa dia tidak membawa kita ke syurgaNya saja? mengapa Ia menciptakan manusia hanya untuk menderita?" keluhnya dalam benak sendiri.

Kemudian pada usia 18 tahun Jeffry Lang memutuskan menjadi Atheis, meskipun ia sering bermimpi shalat, ia tidak serta merta mengerti tentang apa yang ia impikan itu, gerakan demi gerakan yang ia ketahui hanyalah dalam yang ia kisahkan "kami berada di dalam sebuah rumah tanpa perabotan, tak ada apapun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya hiasan adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil seperti di ruang bawah tanah yang terletak diatas dan menghadap ke mereka. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela tersebut. Kami membentuk deretan, saya berada di deretan ketiga. Semua pria dan tidak ada wanita dan kami duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela. Rasanya asing, tak mengenal seorang pun, kami menunduk serentak, muka kami menghadap ke lantai, semuanya tenang dan hening bagaikan semua suara dimatikan..."

Selama menjadi Atheis sepuluh tahun lamanya, Lang beberapa kali mendapatkan mimpi yang sama, meskipun begitu ia tidak terlalu merasakan aneh, ia justru merasakan nyaman saat terbangun. Ia tak mengerti apa itu semua, meskipun berulang, ia juga tidak terlalu peduli.

Hingga sepuluh tahun kemudian ia mengajar di Universitas of San Fransisco, ia bertemu seorang mahasiswa muslim  dikelasnya, beberapa hal yang ia bincangkan dengan pria itu mengenai agama dijawab dengan penuh kehati-hatian. Dialah Mahmoud Qandeel, seorang mahasiswa kaya raya asal Arab Saudi. Ketika Lang mengajukan pertanyaan, Qandeel menjawab dengan bahasa Inggris yang sempurna dan penuh dengan keyakinan.

Dosen dan mahasiswa itu akhirnya sering pergi untuk berdiskusi soal agama. Suatu hari Lang diberi salinan Al-Quran dan beberapa buku tentang islam, tadinya ia tidak peduli namun ketika ia membuka-buka AlQuran dan membacanya, saat itu juga kepalanya dipenuhi dengan banyak prasangka. Dia berada dalam pergulatan yang sangat menarik.
"Al-Quran menyerang anda secara langsung, personal, Al-Quran mendebat, mengkritik, membuat anda malu, dan menantang. Sejak awal Al-quran menorehkan garis perang dan saya berada di wilayah yang bersebrangan."

"Saya menderita kekalahan parah dalam pergulatan, dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis Al-Quran mengetahui saya lebih baik daripada diri saya sendiri,"kata Jeffry, ia menyatakan bahwa seakan-akan Sang penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapatkan jawaban pada bacaan yang selanjutnya seiring ia membaca halaman Al-Quran secara berurutan.

Kemudian pada awal 1980-an ia resmi mengucapkan kalimat shahadat. Ia mendapati sebuah ruangan kecil di Universitas of San Fransisco, pada basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa muslim melakukan shalat. Usai pergulatan panjang dalam benaknya ia memberanikan diri untuk mendatangi tempat itu untuk kemudian ikut shalat zhuhur disana.

Lang ikut bersujud, kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia kemudian kembali duduk di antara dua sujud. Peristiwa ini persis seperti apa yang ada di dalam mimpinya pada beberapa waktu yang lalu.

Ia kini berlutut, dengan wajahnya menempel di lantai, bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan diri total kepada Allah SWT.

*Berbagai Sumber

Dapatkan info terbaru via email gratis, jangan lupa klik konfirmasi pada email sobat:

8 Responses to "Profesor Matematika AS Masuk Islam Setelah Mendapat Hidayah dari Al-Quran"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mohon maaf mas mukhlis, komentarnya dihapus sebab bersinggungan dengan sara

      Delete
  2. Subhanallah, itulah yang dinamakan hidayah Allah SWT. Kita tidak tau kapan ia datang. Semoga profesor tersebut semakin mantap dan bermanfaat bagi semua umat di dunia ini.

    Nice share :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali Defi, Alhamdulillah Allah SWT memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya,

      Delete
  3. subhanallah.. jika allah memberikan hidayah kepada yg dikehendakinya. pastilah terjadi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja mas Eka, sudah seharusnya kita berada di jalan yang telah ditetapkan olehNya

      Delete
  4. hidayah itu datangnya dari Allah, subhanallah., meneliti dan mencari kebenaran kuncinya :) salam kenal kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju, kita wajib kebenaran hakiki.
      Salam kenal kembali dik Rizki

      Delete