Membiarkan Anak Menonton Upin - Ipin Mengandung Resiko

Kalau lagi tidak ada kegiatan baisanya kita bingung mau ngapain, satu hal yang paling sering menjadi pilihan adalah menonton televisi. Acara televisi tidak hanya diperuntukkan untuk kita yang sudah dewasa, melainkan seluruh anggota keluarga kita memiliki kegemarannya masing-masing. Yang sudah tua senangnya menonton sinetron, yang agak muda hobinya ama infotainment, sedangkan untuk anak-anak sering banget nonton kartun dan animasi. Upin Ipin contohnya, ini adalah film animasi yang paling laris di Indonesia. Meskipun bukan buatan bangsa sendiri, namun di dalam film animasi Malaysia ini terdapat tokoh Susanti yang diceritakan sebagai seorang anak Indonesia yang tinggal di Malaysia bersama orangtuanya, lumayan sih... namun sebenarnya pembawaan logat bahasanya Susanti itu sangat kaku, tidak wajar, dan kurang natural untuk kalangan bahasa sehari - harinya anak jakarta, dia lebih terkesan seperti anak Malaysia yang baru belajar bahasa Indonesia.

Upin - Ipin


Kembali ke judul postingan blog ini yaitu Membiarkan Anak Menonton Upin - Ipin Mengandung Resiko. Jelas resikonya tidak ada. Resiko buruk bisa terjadi jika seandainya kita sebagai orangtua tidak mengawasi dan anak menjadi lebih senang menonton daripada belajar, yang kedua yaitu kebanyakan menonton dapat merusak mata. Maka dari itu anak-anak harus dipastikan agar tidak menonton televisi dengan jarak yang terlalu dekat.

Selain itu juga semakin banyak anak - anak Indonesia yang masih kecil tapi tidak begitu fasih dalam berbahasa Indonesia malah beraksen seperti bahasa melayunya orang malaysia. Nah setelah ditelusuri mereka meniru apa yang mereka tonton di upin dan ipin. Ini akan menyulitkan anak nantinya. Disinilah peran orangtua mengarahkan agar anak kembali kepada bahasa ibunya.

Sempat muncul berita-berita tidak menyenangkan tentang anmasi ini yaitu yang berbau sara, namun begitu masih banyak hal yang bisa diambil dari tayangan Upin dan Ipin ini, tentunya hal-hal baik yang patut ditiru oleh anak-anak, diantaranya:

  • Belajar mengaji. Upin dan Ipin sangat suka mengaji dan melantunkan lagu huruf-huruf hijaiyah dengan menarik untuk dihapal
  • Kebiasaan Upin dan Ipin mengerjakan PR patut ditiru anak sebelum ingin bermain atau tidur.
  • Suka membantu opah, dalam hali ini orangtua, yakni menimbulkan rasa kepedulian pada anak
  • Menikmati masa kanak-kanak dengan bermain bersama teman sepermainan. Secara social hal ini sangat bagus, bahkan sampai anak tumbuh dewasa nanti.
  • Masih banyak lagi
Sebenarnya lebih banyak kebaikan yang diceritakan pada tayangan animasi ini ketimbang keburukannnya. Tentang adanya kabar simpang siur yang mengagetkan orang - orang pada waktu lalu tampaknya tidak sebanding dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa lebih baik anak-anak kita menonton Upin dan Ipin daripada diracuni oleh sinetron-sinetron tv yang tidak bermutu sama sekali. Oh ya, masih ada Adit Sopo Jarwo juga loh yang karyanya anak bangsa, marilah kita cintai produk-produk dalam negeri, hehe... 

Demikian teman - teman, apabila tidak keberatan mohon bagikan dan klik share di button bawah pada postingan ini. 

Dapatkan info terbaru via email gratis, jangan lupa klik konfirmasi pada email sobat:

2 Responses to "Membiarkan Anak Menonton Upin - Ipin Mengandung Resiko"

  1. ini film kesukaan saya jg mbak, klo drumah sama sepupu dan keponakan. wah jd film ini kabarnya ada berbau sara gtu ya? itu resikonya mbak deb?
    hmm,bertentangan bgt ya mbak deb..

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete